Senin, 15 Oktober 2012

PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN) DAN PENILAIAN ACUAN PATOKAN (PAP)


A. Pengertian Penilaian Acuan Norma
Ada beberapa pendapat tentang pengertian Penilaian Acuan Norma, yaitu:
  1. Acuan norma merupakan elemen pilihan yang memeberikan daftar dokumen normatif yang diacu dalam standar sehingga acuan tersebut tidak terpisahkan dalam penerapan standar. Data dokumen normatif yang diacu dalam standar yang sangat diperlukan dalam penerapan standar.
  2. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal sebagai penilaian acuan norma (PAN).
  3. PAN adalah Nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu. Artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan nilai di kelompok itu.
  4. Penilaian Acuan Norma (PAN) yaitu dengan cara membandingkan nilai seorang siswa dengan nilai kelompoknya. Jadi dalam hal ini prestasi seluruh siswa dalam kelas / kelompok dipakai sebagai dasar penilaian.
Dari beberapa pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Penilaian Acuan Norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kel        ompok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu.

B. Penilaian Acuan Norma (PAN)
Penilaian acuan norma (PAN) merupakan pendekatan klasik, karena tampilan pencapaian hasil belajar siswa pada suatu tes dibandingkan dengan penampilan siswa lain yang mengikuti tes yang sama. Pengukuran ini digunakan sebagai metode pengukuran yang menggunakan prinsip belajar kompetitif. Menurut prinsip pengukuran norma, tes baku pencapaian diadministrasi dan penampilan baku normative dikalkulasi untuk kelompok-kelompok pengambil tes yang bervariasi. Skor yang dihasilkan siswa dalam tes yang sama dibandingkan dengan hasil populasi atau hasil keseluruhan yang telah dibakukan. Guru kelas kemudian mengikuti asas yang sama, mengukur pencapaian hasil belajar siswa, dengan tepat membandingkan terhadap siswa lain dalam tes yang sama. Seperti evaluasi empiris, guru melakukan pengukuran, mengadministrasi tes, menghitung skor, merangking skor, dari tes yang tertinggi sampai yang terendah, menentukan skor rerata menentukan simpang baku dan variannya .
Berikut ini beberapa ciri dari Penilaian Acuan Normatif :
  1. Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya.
  2. Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut.
  3. Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya).
  4. Penilaian Acuan Normatif memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.
  5. Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok.

C. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .
Dengan PAP setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP.
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.
Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).

D. Persamaan dan Perbedaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa persamaan sebagai berikut:
  1. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
  2. Kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
  3. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tenyang siswa, kedua pengukuran sama-sama nenerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
  4. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
  5. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
  6. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
  7. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

Perbedaan kedua penilaian adalah sebagai berikut:
  1. Penilaian acuan norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  2. Penilaian acuan norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  3. Penilaian acuan norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
  4. Penilaian acuan norma digunakan terutama untuk survey. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.

KONSEP DASAR PENGUKURAN, PENILAIAN, DAN EVALUASI A. PENGERTIAN PENGUKURAN, EVALUASI, DAN PENILAIAN PENDIDIKAN


Secara harfiah, kata evaluasi berarti penilaian. Wiersma dan Jurs berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan penilaian.
Sementara itu, Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek.
Lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi pendidikan sebagai berikut :
Evaluasi pendidikan adalah :
1.                 Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tuju8an yang telah ditentukan;

2. Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feedback) bagi penyempurnaan pendidikan.
B. FUNGSI EVALUASI
Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu mengukur kemajuan, menunjang penyusunan rencana, dan memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.Fungsi evaluasi bersifat evaluatif :
• Fungsi prognostik yaitu meramalkan sesuatu dalam menghadapi langkah selanjutnya
• Fungsi diagnostik yaitu evaluasi yang bertujuan yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta penyebabnya
• Fungsi judgement yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menetukan keberhasilan siswa atau tes penentuan akhir.
1. Fungsi Evaluasi Bagi Siswa Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan :
a. Hasil bagi siswa yang memuaskan.Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.
b. Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan.Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa
2. Fungsi Evaluasi Bagi Guru
a. Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.
b. Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.
c. Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.
d. Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.
3. Fungsi Evaluasi Bagi Sekolah
a. Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum. Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk perencanaan program berikutnya yang lebih baik.
b. Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.
c. Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telh dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.
d. Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mungkin terjadi.

Adapun secara administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu :
1. Memberikan Laporan.Dalam melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan mengenai perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik itu pada umumnya tertuang dalam bentuk Buku Laporan Kemajuan Belajar Siswa, yang lebih dikenal dengan istilan Rapor (untuk peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), atau Kartu Hasil Studi (KHS), bagi peserta didik di lembaga pendidikan tinggi, yang selanjutnya disampaikan kepada orang tua peserta didik tersebut pada setiap catur wulan atau akhir semester.

2. Memberikan Bahan-bahan Keterangan (Data).Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Dalam hubungan ini, nilai-nilai hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, adalah merupakan data yang sangat penting untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan : apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan tamat belajar, dapat dinyatakan naik kelas, tinggal kelas, lulus ataukah tidak lulus, dan sebagainya.

3. Memberikan Gambaran.Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin antara lain dari hasil-hasil belajar peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar. Dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan untuk berbagai jenis mata pelajaran misalnya, akan dapat tergambar bahwa dalam mata pelajaran tertentu (misalnya Bahasa Arab, matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) pada umumnya kemampuan peserta didik masih sangat memprihatinkan. Sebaliknya, untuk mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya, hasil belajar siswa pada umumnya sangat menggembirakan. Gambaran tentang kualitas hasil belajar peserta didik juga diperoleh berdasar data yang berupa Nilai Ebtanas Murni (NEM), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lain-lain.
Pengertian  pengukuran  :  Diartikan  sebagai  pemberian  angka  kepada  suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas.Pengertian  penilaian  :  Suatu  proses  untuk  mengambil  keputusan  dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik menggunakan instrumen tes maupun non tes.Prinsip-prinsip dalam keotentikan penilaian adalah sebagai berikut :
  • Adil  dan  obyektif,  tidak  membeda-bedakan  latar  belakang  siswa dan penilaian harus dipengaruhi oleh faktor-foktor pelaksanaan sesuai dengan kemampuan anak.
  • Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, terus menerus. Hasil penilaian harus ditindak lanjuti karena bagian integral dari proses Pembelajaran.
  • Reliabilitas, bersifat tetap sebagai akuntabilitas laporan dan pelapor.
  • Validitas, bersifat tetap sesuai dengan tujuan untuk mencapai laporan yang valid.
  • Standarisasi, perlakukan yang sama sesuai dengan standar yang ditetapkan, semua  individu  (siswa)  mendapat perlakukan  yang  sama  sesuai  dengan standar yang ditetapkan.
  • Diskriminasi, setiap soal memenuhi tingkat kesalahan yang berbeda-beda. Komprehensif, penilaian mencakup banyak hal yang diukur dilihat dari segi aspek berfikir siswa mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keterlaksanaan, harus memperhitungkan implikasi pelaksanaan pengukuran di lapangan.
I.5  Tujuan Penilaian
Penilaian berbasis kelas bertujuan untuk :
  • Mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu proses belajar tertentu.
  • Mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok Mengetahui usaha yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajar. Mengetahui sampai seberapa jauh siswa telah merealisasikan kapasitasnya menjadi suatu achievement (hasil belajar) melalui kegiatan belajar.
  • Mengetahui efesiensi metoda mengajar yang dipergunakan.

Sabtu, 13 Oktober 2012

tentang sang debu_pesisir


Nama saya Ika Silfiana Arifatul Khoiriyah dan biasa dipanggil ika atau silfi. Saya dilahirkan di sebuah desa yang ada di kabupaten Pemalang pada tanggal 7 Juni 1992. Desa yang sangat sering dikunjungi orang-orang untuk berwisata. Karena pemandangan lautnya yang bagus dan terbangun dengan megah water park, desa itu bernama Widuri. Dari orang tua yang boleh dibilang sangat sederhana. Mama dan Papa saya yang sangat saya sayangi. Mereka begitu hebat, mama saya bernama Amiroh dan papa saya bernama Faizin. saya juga mempunyai 2 orang adik yang bernama Syukron Tsani Hidayatullah dan Firda Ikhwatul Musyafa’ah. Kedua adik saya ini menuruni bakat dari papa saya. Meraka berdua sering mengikuti kompetisi sampai tingkat nasional untuk lomba Qiro. Keluarga saya nomer satu di hati saya itulah posisi mereka di hati saya. Mama saya yang bekerja sebagai pedagang baju dan sembako. Beliau jugalah yang  membiayai papa saya hingga lulus SI Pendidikan guru agama. Gaji papa saya yang hanya 100.000/bulan yang harus membiayai ketiga anaknya ini tak mampu membiayai hidup kami. Tapi semangat papa saya yang luar biasa untuk melanjutkan sekolah itulah yang sangat hebat. Sehingga dengan kerja keras mereka harus berjuang mencari tambahan lain. Papa saya menjadi seorang guru yang sangat sabar. Saya ingin seperti beliau. Beliau sudah mengabdi menjadi guru GTT selama 24 tahun didunia pendidikan hingga pada tahun 2010 papa diangkat menjadi PNS. Begitu bahagianya keluarga kami.
Dari saya kecil sering kali orang tua saya berkata, “ mama dan papa rela menjual harta benda kita ini, yang penting kamu dan kedua adikmu bisa bersekolah. Tapi kalian semua harus pintar dan bisa membanggakan orang tua”.Ya Allah...hati saya begitu bergetar, ada semangat tersendiri dalam hati saya. Saya mulai langkah saya untuk belajar, disebuah TK yang bernama TK PAKKIS saya mulai bersekolah. Dengan sepeda federal reotnya, papa mengantar saya sekolah sekaligus beliau berangkat mengajar. Saya duduk di depan beliau, beliau kayuh sepeda tua itu dengan sekuat tenaga. Papa saya mengajar di sebuah SD swasta bernama MA Anwar. Setelah mengajar beliau harus mengajar Qiro’ah diberbagai SMP untuk ekstrakurikuler. Setelah itu beliau bekerja di KUD ( Koperasi Unit Desa ) di Tanjungsari. Selesai TK pada tahun 1998, saya mulai masuk SD. Saya dan kedua saudara saya Vinda dan Fadli mendaftar di SD yang favorit. Saya dan kedua saudara saya pun di terima. Tapi, papa saya berkata lain, beliau menyuruh saya untuk bersekolah di SD MA tempat beliau mengajar. Dengan berbagai macam alasan. Selain tempatnya yang jauh sehingga harus naik becak dengan biaya Rp. 300.000 per bulan. Keadaan ini membuat orang tua saya berfikir panjang. Akhirnya saya menuruti kedua orang tua saya untuk bersekolah disekolah itu. Saya menjadi juara 1 di kelas. Melangkah ke kelas II. Keluarga saya pindah di rumah yang telah dibangun dari hasil keringatnya sendiri. Meski sangat sederhana kami menempati rumah itu. Pindah rumah pindah sekolah itu kalimat yang tepat untuk saya. Saya pindah di SDN 03 Widuri. Dari kelas II sampai kelas VI saya selalu mendapat rangking 3 besar. Hingga saya bisa mempersembahkan beberapa prestasi yaitu Juara 1 Lomba baca puisi SD Se-DABIN II dan Juara 3 lomba Cerdas Cermat SD.
Setelah itu saya melangkahkan kaki saya pada jenjang SMP di tahun 2004. Saya bersekolah di SMPN 2 Pemalang. SMP terfavorit di kota Pemalang. Tidak ada teman SD saya satupun yang melanjutkan di situ. Saya senang sekali bisa bersekolah di situ. tapi saya juga memikirkan apakah orang tua saya mampu membayarnya. Biayanya yang begitu mahal. Alhamdulillah, pada saat itu dagangan mama saya laku berat hingga saya dapat bersekolah, papa pun mampu membeli motor dan saya di belikan sepeda. Pukul 13.30 saya pulang sekolah SMP. Perjalanan dari sekolah sampai rumah sekitar 30 menit. Pukul 14.30 saya harus mengayuhkan sepeda saya untuk sekolah Salafiyah di tingkat Wustho. Seperti kata ayah ku bilang, kamu harus seimbang antara ilmu agama dan ilmu dunia. Meskipun kamu sudah bersekolah SMP, kamu juga harus melanjutkan madrasah ke jenjang wustho. Saya pun menuruti nasehat beliau.  Di pertengahan tahun saya mendapatkan beasiswa sehingga tidak membayar biaya SPP sampai kelas IX. Waktu sekolah SMP ini saya hanya bisa diam tidak bisa mengembangkan apa yang ada pada diri saya. Mungkin secara tidak langsung saya merasa minder dengan siswa-siswa yang lain. Mereka berasal dari orang-orang kaya, ada anaknya Bupati, kepala dinas, kepala pariwisata, dan yang lainnya. Sedangkan orang tua saya hanya berasal dari seorang guru GTT dan pedagang. Selain itu, mereka juga berasal dari SD yang hebat. Sedangkan saya hanya berasal dari sebuah SD desa yang culun dan kumuh. Keberanian belum bisa masuk dalam diri saya. Sedangkan mereka sudah di didik keberanian yang begitu hebat.
Selanjutnya pada tahun 2007, saya bersekolah SMA dan melanjutkan madrasah ke jenjang Ulya. Saya memilih bersekolah di SMAN 2 PEMALANG. Saya memilih bersekolah di SMA itu karena saya tidak mau mengulang  kejadian saya waktu SMP. Dan orang tua saya pun setuju. Ketika saya harus mendaftar ulang ulang sebesar 1.500.000 papa saya tidak mempunyai uang sedikitpun. Di dompet hanya ada 50.000,00. Itupun untuk makan hari ini. Besuk adalah hari terakhir untuk daftar ulang, tapi tidak ada uang sedikitpun untuk membayar. Saya hanya bisa menangis didalam kamar. Saya ingin bersekolah tapi uang tidak punya. Kenapa di dunia ini uang segalanya...? mungkin ini sudah takdir saya untuk tidak melanjutkan sekolah. Sore harinya, saya main ke rumah nenek saya. Beliau bertanya, saya akan melanjutkan sekolah dimana. Saya jawab dengan tangisan. Nenek saya kaget kenapa saya menangis. Saya ceritakan semuanya pada nenek saya. Nenek saya memeluk saya. Beliau ingin saya tetap bersekolah. Kemudian beliau mengeluarkan tabungannya. Padahal uang tabungannya itu berasal dari uang pensiunan kakek saya. Beliau tak pernah merepotkan anak-anaknya. Beliau biayai sendiri keperluan hidupnya. Beliau menyuruh saya besuk untuk mengambil uang di Bank bersamanya. Esok harinya, saya bersama nenek saya mengambil uang. Saya naik sepeda bersama nenek saya. Saya genjot sepeda saya dengan semangat tinggi. Sesampainya di Bank, nenek saya masuk kedalam. Saya menunggu diluar, tak lama kemudian nenek saya keluar. Dan memberi uang sebesar Rp. 500.000. Ya Allah....masih kurang Rp.1000.000, uang dari mana lagi ini. Tidak lama kemudian Hp saya berbunyi, ternyata telpon dari papa. Papa menyuruh saya untuk ke rumah budhe saya. Saya dan nenek saya menuju ke rumah budhe saya dengan menggunakan sepeda. Saya kayuh sepeda saya,entah mengapa air mata ini menetes dengan sendirinya di perjalanan menuju rumah budhe saya.  tidak peduli semua mata menuju pada saya.
Sesampainya di rumah budhe saya, budhe saya memberi uang Rp. 200.000 kepada saya. Kata beliau, beliau hanya bisa membantu sedikit. Tapi bagi ku itu banyak sekali. Saya cium tangan budhe saya, sambil saya ucapkan terima kasih. Sekarang sudah terkumpul uang Rp. 700.000 kurang Rp. 800.000 lagi. Entah bingung sekali pikiran saya, apa yang harus saya lakukan lagi. Dengan uang Rp. 700.000 saya beranikan diri untuk ke sekolah. Sesampainya di sekolah, saya duduk di taman sekolah, saya menunggu papa saya datang. Hampir satu jam saya menunggu papa saya di tempat itu. Tak lama kemudian papa saya datang dengan memakai sepeda. Karena pada waktu itu, motor papa saya sedang di gadaikan untuk menutup modal dagang mama saya. Saya tidak sanggup melihat papa. Saya tahan air mata saya jangan sampai menetes. Saya temui papa saya di parkiran sekolah. Papa saya menjelaskan, bahwa beliau sudah mencari uang kemanapun, tapi tidak dapat. Padahal gaji papa saya sebagai guru GTT selama 5 bulan belum dibayar. Saya dan papa saya bingung sendiri. Harus bagaimana lagi. Setelah itu, kami bersama-sama menemui WAKASEK KESISWAAN SMAN 2 Pemalang.
 Kami menerangkan semuanya, dan alhamdulillah dengan uang segitu saya dapat di terima, tapi dengan syarat sisa kurangannya harus di bayar max. 3 bulan. Tidak jadi masalah, yang penting saya dapat bersekolah. Insyaallah kalau kita sudah ada niat pasti ada jalan. Saya pun dapat bersekolah, dengan sekuat tenaga bagaimana caranya saya dapat membantu orang tua saya untuk meringankan biaya sekolah. Saya ikuti beberapa organisasi yang ada disekolah selama 3 tahun dan di beri amanah sebagai berikut : Kabid. Kepemimpinan ( OSIS SMAN 2 PEMALANG ), Pemangku Adat Pramuka SMAN 2 PEMALANG, Pengurus IKAPRASDA SMAN 2 PEMALANG, Anggota Penyuluhan KAPA Narkoba SMAN 2 PEMALANG, Provost PKS SMAN 2 PEMALANG. Dan saya juga dapat menyumbang beberapa prestasi, antara lain : Juara 1 Lomba baca puisi Se-Kabupaten tingkat SMA, Juara 1 Lomba baca puisi Festival Kabupaten Pemalang, Juara Harapan 1 Lomba puisi Se-Provinsi. Saya juga mendapatkan beasiswa prestasi dengan tidak di bebani biaya SPP sampai lulus dan beasiswa dari pramuka setiap 3 bulan sekali sebesar Rp. 300.000 karena menjadi Bantara teladan. Tidak disangka saya dapat sedikit membantu kedua orang tua saya dengan tidak merepotkan mereka lagi.
Memasuki kelas XII SMA saya mulai berfikir,  bisa atau tidak saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi dengan keadaan orang tua saya seperti ini. Tapi, dengan semangat dari orang tua saya, saya percaya pasti bisa. 2 bulan sebelum saya lulus SMA papa saya diangkat menjadi pegawai negeri. Ya Allah, mungkin ini sudah jalan-Mu. Alhamdullah saya bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Di kelas XII SMA ini saya mulai mengenal indahnya cinta. Saya berpacaran dengan teman satu kelas saya. Dia anak yang pintar di kelas, selalu mendapatkan peringkat 3 besar. Sedangkan saya hanya berada di peringkat 15 keatas hahahaha.....sungguh malu sekali saya berpacaran dengan dia. Tapi dia menjadi motivasi saya dalam belajar. Mempersiapkan ujian nasional, hampir tiap hari dia kerumah untuk mengajari saya palajaran yang belum saya mengerti. Karena dia tau, saya tak hanya mempersiapkan ujian untuk SMA tapi saya juga harus mempersiapkan ujian untuk salafiyah juga. Saya harus menghafalkan berbagai macam surat-surat dalam Al- qur’an, do’a-do’a dan nadhom alfiyah. Setiap saya pulang salafiyah, dia menjemput saya sekaligus dia pulang dari lesnya, dia datang kerumah saya. dia mengajari saya. Saya senang sekali, karena ini bukan seperti pacaran anak muda yang lainnya. Di sini kami saling memberi semangat dan motivasi. Saya banyak kemajuan dalam akademik setelah bersamanya. Tapi, cinta itu hanya bertahan satu tahun, setelah kita lulus dan berpisah dengan jarak kamipun putus. Tahun 2010, saya masuk kuliah di IKIP PGRI SEMARANG dengan mengambil program studi PGSD. Sebenarnya dalam benak saya, saya tidak mau sedikitpun menjadi seorang guru, tapi saya ingin seperti papa saya yang begitu sabar. Dan saya ingin membuktikan bahwa guru adalah pekerjaan yang paling mulia. Pahlawan tanpa tanda jasa. Di perguruan tinggi ini saya mengikuti beberapa organisasi, salah satunya adalah racana dan HIMA PGSD. Alhamdulillah, di HIMA PGSD saya di beri amanah untuk menjadi wakil ketua HIMA PGSD. Dan saya merasa senang sekali, karena bisa banyak belajar dan banyak  mendapatkan pengalaman selama saya mengikuti organisasi salah satu nya yaitu Presidium sidang MUBES, 2 kali Presidium sidang KONFERENSI, Presidium sidang KONGRES, Presidium sidang MUSPANDEGA Racana Subiadinata, Delegasi KONGRES PGSD Se-Indonesia, Delegasi Pelatihan Pendidikan Karakter bagi mahasiswa propetis wilayah VI  JATENG. Dan Alhmdulillah saya mendapatkan prestasi dengan menjadi Juara 3 lomba baca puisi tingkat Institut.
Inilah sedikit perjalanan kisah hidupku, dari lahir sampai aku ada di dunia ini untuk menjalani setiap langkah dari setiap garis hidupku. Semoga dapat memjadi motivasi untuk teman-teman semuanya. Terus berusaha pantang menyerah.